Pandan Wangi dan Wangi Pandan

Butir-butir beras itu berbentuk bulat-panjang. Pada bagian tengah butir-butir beras itu terdapat titik kapur, yang berwarna keputihan. Bila dicium baunya terasa wangi, seperti bau pandan.

Butir-butir beras itu berbentuk bulat-panjang. Pada bagian tengah butir-butir beras itu terdapat titik kapur, yang berwarna keputihan. Bila dicium baunya terasa wangi, seperti bau pandan. Itulah beras Pandan Wangi, bukan wangi karena aroma daun pandan.

Di berbagai pusat perbelanjaan, pasar beras tradisional hingga toko-toko hampir dipastikan menjual beras Pandan Wangi. Di pusat perbelanjaan bahkan kerap kita jumpai beras dengan label “Pandan Wangi”. Ada pula yang mengklaim Pandan Wangi yang mereka jual asli produksi Cianjur, Jawa Barat.

Jika Anda ingin membeli beras Pandan Wangi, sudahkah Anda tahu ciri-cirinya? Benarkah beras Pandan Wangi atau karuhun (warisan nenek moyang) yang dijual itu asli dari Cianjur, atau jangan-jangan beras oplosan yang diberi aroma pandan.

Yang dimaksud beras Pandan Wangi oplosan adalah beras Pandan Wangi yang dicampur beras lain yang memiliki ciri fisik sama atau bahkan berbeda sama sekali, tetapi kualitasnya lebih rendah. Persentase beras Pandan Wangi hanya 15-40 persen. Dengan begitu keuntungan yang diperoleh pedagang jauh lebih besar bila dibandingkan dengan menjual beras asli Pandan Wangi.

Bagaimana dengan petaninya? “Tidak ada keuntungan apa pun yang kami dapat dari penjualan beras Pandan Wangi oplosan itu. Bahkan keuntungan kami semakin kecil,” kata Syahroni (53), petani khusus padi varietas unggul Pandan Wangi di Desa Tegallega, Kecamatan Warung Gondang, Cianjur.

Syahroni merinci, dengan adanya beras Pandan Wangi oplosan atau bahkan yang dipalsukan, tingkat permintaan beras yang satu ini di tingkat petani semakin rendah. Konsumen dirugikan dan bisa “tertipu”, petani pun mendapat disinsentif harga.

Mansyur, petani lainnya, mengatakan, produksi beras Pandan Wangi di Cianjur ini terbatas di Kecamatan Warungkondang (760 hektar), Cugenang (357 ha), Cibeber (351 ha), Cianjur (183 ha), dan Cilaku (210 ha). Meskipun total luas sawah di lima kecamatan itu 15.005 ha, areal yang cocok ditanami benih padi unggul bermutu Pandan Wangi hanya seluas 1.861 ha. Selebihnya bisa ditanami, tetapi meski dengan varietas unggul yang sama pun hasilnya sudah bisa ditebak, berbeda.

Perbedaan bisa muncul dari soal rasa, bentuk butiran beras, tekstur, tingkat keputihan, maupun dalam hal bau wangi pandannya. Beras Pandan Wangi bila dimasak nasinya pulen, enak, dan wangi.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian Achmad Suryana mengatakan, bibit padi varietas unggul Pandan Wangi bisa saja ditanam di luar Cianjur. Namun, soal rasa, aroma, kepulenan, dan ciri lain berbeda.

“Beras Pandan Wangi khas Cianjur tercipta karena paduan faktor genetik dan lingkungan,” katanya. Karena sifat khas tersebut membuat beras Pandan Wangi “bergengsi” dan diminati masyarakat menengah ke atas walau harganya tinggi.

Dengan produktivitas sekali panen rata-rata mencapai 5,5 ton, volume produksi beras Pandan Wangi Cianjur hanya sebesar 10.235,5 ton. Mengingat usia persemaian lebih lama dari padi jenis varietas unggul nasional, seperti Ciherang atau IR-64, serta masa panen baru bisa dilakukan 145-155 hari. Praktis dalam setahun tanaman padi Pandan Wangi hanya bisa ditanam dua kali, atau produksinya dalam setahun hanya 20.471 ton.

Proses budidaya padi Pandan Wangi sedikit berbeda dengan varietas lain, misalnya dalam hal pemupukan. Dosis pupuk yang digunakan tidak boleh terlalu banyak kandungan natrium (N)-nya karena batang bisa roboh akibat ciri tanamannya yang memang tinggi (150 sentimeter).

Penggunaan pupuk yang dianjurkan hanya 200-250 kg per hektar, dengan perincian urea sebanyak 100-150 kg, SP-36 (75 kg), dan selebihnya KCl. Pemupukan dasar dilakukan pada umur 10-15 hari setelah tanam (hst), pemupukan susulan pertama usia 25-30 hst, dan pemupukan susulan kedua usia 62-67 hst. Jarak tanam diatur 30 cm x 30 cm atau 35 cm x 35 cm. Pengaturan air dilaksanakan pada usia 25-30 hst sebagai pengeringan pertama, 60 -70 hst pada pengeringan kedua, dan umur 130 hst pengeringan ketiga menjelang panen. Penggunaan pestisida juga dijauhi.

Karena bulir padi menempel kuat pada malai, membuat cara panen padi Pandan Wangi juga istimewa, yaitu masih menggunakan ani-ani. Proses perontokan juga tidak dilakukan dengan membanting-bantingkan bulir gabah ke landasan kayu, tetapi menggunakan mesin perontok.

Mengingat proses produksinya yang begitu berat, tak aneh bila harga beras Pandan Wangi juga istimewa. Harga beras Pandan Wangi langsung dibeli dari petani saja minimal Rp 5.000. Sasarannya tentu konsumen kelas menengah atas. Bandingkan Pandan Wangi yang tersebar di supermarket yang harganya hanya Rp 3.500-7.500 per kg.

Dengan membanjirnya produk beras Pandan Wangi oplosan atau bahkan palsu, sama sekali tidak ada insentif harga bagi petani. Yang terjadi meski ongkos produksinya tinggi dan hanya bisa menanam dua kali setahun, petani padi Pandan Wangi Cianjur tetap di posisi tawar rendah. Harga gabah kering giling (GKG) Pandan Wangi di tingkat petani sulit naik, meski kebutuhan meningkat dan harga di pasaran terus melambung. Melihat umur padi lebih lama, biaya produksi khususnya perawatan juga lebih besar.

Meningkatkan pendapatan

Merasa terus-menerus dirugikan dengan adanya beras Pandan Wangi palsu dan oplosan, para petani kemudian membentuk gabungan kelompok tani atau Gapoktan.

Bekerja sama dengan Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat Institut Pertanian Bogor dan Departemen Pertanian (LPPM IPB), para petani sejak sebelas bulan lalu mulai memproduksi beras dari tanaman padi Pandan Wangi. Pendampingan mulai dari teknik budidaya, agrobisnis, dan pemasaran dilakukan LPPM IPB.

Hasilnya, pada Jumat (23/2) mereka memperkenalkan produk baru beras Pandan Wangi asli dalam kemasan lima kilogram. Para petani pun mengusung merek dagang Beras Pandan Wangi Cap Ayam Pelung.

Nugroho Edhi Suyatno, staf pengajar teknologi pangan IPB yang menjadi mendamping petani, mengatakan, banyak produsen beras yang mengklaim berasnya asli Pandan Wangi, tetapi sebenarnya berasnya hanya wangi atau beraroma daun pandan.

“Konsumen tertipu dan petani dirugikan. Dari penelitian terhadap 10 produk dalam kemasan yang mengklaim sebagai beras Pandan Wangi, tak ada satu pun yang 100 persen beras Pandan Wangi. Bahkan, ada yang sama sekali palsu, bukan beras Pandan Wangi. Sisanya kandungannya hanya 13-40 persen,” katanya.

Soal pasar, kelompok tani itu sudah mendapatkan akses dari CV Quasindo. Perusahaan ini siap memasarkan beras Pandan Wangi produksi Gapoktan Citra Sawargi Warungkondang, Cianjur. Dengan membentuk Gapoktan yang khusus memproduksi beras Pandan Wangi diharapkan harga gabah petani juga terkatrol. Pedagang bisa langsung mencari beras ke petani agar mendapatkan beras yang bagus.

Para petani di Cianjur menaruh harapan dengan sertifikasi produk beras Pandan Wangi. Kalau tidak mulai sekarang mengubah keadaan, kapan lagi petani bisa hidup sejahtera.

Sumber: KCM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: